Minggu, Januari 31, 2010

Hukum Merayakan VALENTINEs DAY bagi ummat Islam

Boleh jadi tanggal 14 Pebruari setiap tahunnya merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak remaja, baik di negeri ini maupun di berbagai belahan bumi lainnya. Sebab hari itu banyak dipercaya orang sebagai hari untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. Itulah hari valentine, sebuah hari di mana orang-orang di barat sana menjadikannya sebagai fokus untuk mengungkapkan rasa 'kasih sayang', walau pun pada hakikatnya bukan kasih sayang melainkan hari 'making love'.

Dan seiring dengan masuknya beragam gaya hidup barat ke dunia Islam, perayaan hari valentine pun ikut mendapatkan sambutan hangat, terutama dari kalangan remaja ABG. Bertukar bingkisan valentine, semarak warna pink, ucapan rasa kasih sayang, ungkapan cinta dengan berbagai ekspresinya, menyemarakkan suasan valentine setiap tahunnya, bahkan di kalangan remaja muslim sekali pun.


Sejarah Valentine

Valentine’s Day menurut literatur ilmiyah dan kalau mau dirunut ke belakang, sejarahnya berasal dari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day.

The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).

Keterangan seperti ini bukan keterangan yang mengada-ada, sebab rujukannya bersumber dari kalangan barat sendiri. Dan keterangan ini menjelaskan kepada kita, bahwa perayaan hari valentine itu berasal dari ritual agama Nasrani secara resmi. Dan sumber utamanya berasal dari ritual Romawi kuno.

Sementara di dalam tatanan aqidah Islam, seorang muslim diharamkan ikut merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik agama Nasrani ataupun agama paganis (penyembah berhala) dari Romawi kuno.

Katakanlah, "Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." (QS. Al-Kafirun: 1-6)

Kalau dibanding dengan perayaan natal, sebenarnya nyaris tidak ada bedanya. Natal dan Valentine sama-sama sebuah ritual agama milik umat Kristiani. Sehingga seharusnya pihak MUI pun mengharamkan perayaan Valentine ini sebagaimana haramnya pelaksanaan Natal bersama.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang haramnya umat Islam ikut menghadiri perayaan Natal masih jelas dan tetap berlaku hingga kini. Maka seharusnya juga ada fatwa yang mengharamkan perayaan valentine khusus buat umat Islam.

Mengingat bahwa masalah ini bukan semata-mata budaya, melainkan terkait dengan masalah aqidah, di mana umat Islam diharamkan merayakan ritual agama dan hari besar agama lain.

Valentine Berasal dari Budaya Syirik.

Ken Swiger dalam artikelnya “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, “Kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang berarti, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa”. Kata ini ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi”.

Disadari atau tidak ketika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Icon si “Cupid (bayi bersayap dengan panah)” itu adalah putra Nimrod “the hunter” dewa matahari.

Disebut tuhan cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri. Islam mengharamkan segala hal yang berbau syirik, seperti kepercayaan adanya dewa dan dewi. Dewa cinta yang sering disebut-sebut sebagai dewa Amor, adalah cerminan aqidah syirik yang di dalam Islam harus ditinggalkan jauh-jauh. Padahal atribut dan aksesoris hari valentine sulit dilepaskan dari urusan dewa cinta ini.

Walhasil, semangat Valentine ini tidak lain adalah semangat yang bertabur dengan simbol-simbol syirik yang hanya akan membawa pelakunya masuk neraka, naudzu billahi min zalik.

Semangat valentine adalah Semangat Berzina

Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Bahkan tidak sedikit para orang tua yang merelakan dan memaklumi putera-puteri mereka saling melampiaskan nafsu biologis dengan teman lawan jenis mereka, hanya semata-mata karena beranggapan bahwa hari Valentine itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih sayang.

Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang diharamkan. Orang barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan zina. Ungkapan make love yang artinya bercinta, seharusnya sedekar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna make love atau bercinta adalah melakukan hubungan kelamin alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun mengalami distorsi parah.

Misalnya, istilah penjaja cinta. Bukankah penjaja cinta tidak lain adalah kata lain dari pelacur atau menjaja kenikmatan seks?

Di dalam syair lagu romantis barat yang juga melanda begitu banyak lagu pop di negeri ini, ungkapan make love ini bertaburan di sana sini. Buat orang barat, berzina memang salah satu bentuk pengungkapan rasa kasih sayang. Bahkan berzina di sana merupakan hak asasi yang dilindungi undang-undang.

Bahkan para orang tua pun tidak punya hak untuk menghalangi anak-anak mereka dari berzina dengan teman-temannya. Di barat, zina dilakukan oleh siapa saja, tidak selalu Allah SWT berfirman tentang zina, bahwa perbuatan itu bukan hanya dilarang, bahkan sekedar mendekatinya pun diharamkan.

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS Al-Isra’: 32)

Gimana, udah pada tau kan hukumnya merayakan valentine days? Naa.. sekarang saatnya mereformasi diri. Klo dulu masih ikut-ikutan merayakan atau cuma meramekan, sekarang jangan sampe deh. Hiii... Naudzubillahi mindzaliik...Gimana klo generasi muda yang kurang paham agama ikut-ikutan. Dosa kan?

Nabi saw bersabda klo kita mengikuti suatu kaum, maka kita akan sama dengan kaum itu. Orang kafir, meskipun kita tidak masuk ke agama mereka, akan senang jika kita mengikuti kebiasaan mereka. Bagi mereka itu juga cukup. So, kita harus menyelamatkan generasi muda dari kebiasaan bervalentine days yang nyata-nyata dosa. Klo ada teman, saudara & handai tolan yang ikut-ikutan, dikasih tahu deh. Sayang kan buang-buang uang untuk berbuat dosa, mending uangnya ditabungin atau di infak aja, malah dapet pahala tuh. Gimana, setujuu...?. Mulai hari ini, kita kasih tahu saudara-saudara kita dan kita selamatkan generasi muda Indonesia. Satu lagi, jangan sampe karena urusan duniawi kita ga sempet cari ilmu buat bekal akhirat nanti. Ya...?

Jumat, Januari 01, 2010

Mentalqin Mayit

Dalam kitab مخنى المحتاج  juz I, disebutkan bahwa menurut Imam Syafi’i dan Imam Ahmad Ibnu Hanbal, hukum membaca Talqin bagi mayit yang sudah mukallaf setelah selesai dikubur itu hukumnya disunahkan. Orang yang membaca talqin itu duduk di arah kepala kuburan mayit, kemudian berkata kepada mayit:
ياَعَبْدَاللهِ ابْنَ أَمَةِ اللهِ اُذْكُرْمَا خَرَجْتَ عَلَيْهِ مِنَ الدَّارالدُنْياَ شَهَادَةَ اَنْ  لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاَنَّ ُمحَمَّدًارَسُوْلُ اللهِ وَاَنَّ اْلجَنَّةَ حَقٌّ وَاَنَّ النَّارَ حَقٌّ وَاَنَّ اْلبَعْثَ حَقٌّ وَاَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ  لاَرَيْبَ فِيْهَا وَاَنَّ اللهَ َيبْعَثُ مَنْ فِى اْلقُبُوْرِ وَاَنَّكَ رَضِيْتَ بِاللهِ رَبًّا وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنَا وَِبمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَبِالقُرْآنِ اِمَامً وَبِالْكَعْبَةِ قِبْلَةً وَبِاْلمُؤْمِنِينَ اِخْوَاناً. رواه الطبر انى فى الكبير
“Ya Abdullah bin Amatillah; ingatlah apa yang kamu keluar atasnya dari dunia ini: Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan Allah, sesungguhnya surga itu benar, neraka itu benar, kebangkitan itu benar dan hari qiyamat pasti datang tidak diragukan lagi, dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan manusia dari kubur dan sesungguhnya engkau telah ridla bahwa Allah sebagai Tuhanmu dan Islam agamamu dan Muhammad Nabimu dan Al-Qur’an panutanmu dan Ka’bah kiblatmu dan orang-orang mu’min saudaramu”. (Hadits diriwayatkan Thobroni).
Menurut Imam Nawawi, walaupun hadits ini dha’if, tetapi dikuatkan oleh beberapa hadits lain yang shahih dan firman Allah;
وَذَكِّرْ فَاِءنَّ الذِكْرَ تَنْفَعُ اْلمُؤْمِنِينَ
“Dan berilah peringatan sesungguhnya peringatan itu bermanfa’at bagi orang-orang yang beriman”.
Selanjutnya, dapat dilihat juga dalam kitab Nailul Awthar juz. IV, sebagai berikut;
رَوِيَ عَنْ رَاشِدِبْنِ سَعْدٍ وَضَمْرَةَ بْنِ حَبِيْبٍ وَحَكِيْمِ بْنِ عَمِيرٍ قَالُوْااِذَا سَوَى عَلَى اْلمَيِّتِ وَانْصَرَفَ النَّاسَ عَنْهُ كَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ اَنْ يُقَالَ لِلْمَيِّتِ عِنْدَ قَبْرِهِ يَافُلاَنُ قُلْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاَشْهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ يَافُلاَنُ رَبِّىَ اللهُ وَدِيْنِ اْلإِسْلاَمُ وَنَبِيّىِ ُمحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.  رواه سعيد
“Diriwayatkan dari Rasyid bin Sa’ad dan Dlamrah bin Habib dan Hakim bin Umair mereka berkata: Apabila telah diratakan kuburan atas mayyit dan orang-orang telah pergi mereka mensunnahkan untuk dikatakan kepada mayyit di atas kuburnya; Yaa Fulan, katakan! Tidak ada Tuhan kecuali Allah tiga kali; Yaa Fulan, katakan! Tuhanku Allah agamaku Islam, Nabiku Muhammad SAW kemudian pergilah”.
Dalam kitab الحاوى للفتاوى  juz. II, karya Al-Imam Sayuthi mengungkapkan:
مَارُوِيَ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى الله عليه وسلم اَنَّهُ لمَاَّ دُفِنَ وَلَدُهُ اِبْرَاهِيْمُ وَقَفَ عَلَى قَبْرِهِ فَقَالَ يَا بُنَيَّ اْلقَلْبُ َيحْزَنُ وَاْلعَيْنُ تَدْمَعُ وَلاَ نَقُوْلُ مَايُسْخِطُ الرَّبَّ. اِنَّاِللهِ وَاِنَّا اِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ يَاُبَنَيَّ قُلِ اللهُ رَبِّى وَالإِسْلاَمُ دِيْنِى وَرَسُوْلُ اللهِ أَبِى فَبَكَتِ الصَّحَابَةُ وَبَكَى عُمَرُبْنُ اْلَخطَّابِ بُكَاًء اِرْتَفَعَ لَهُ صَوْ تُهُ فَاْلتَفَتَ النَبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَأَى عُمَرَ يَبْكِى وَالصَّحَابَةُ مَعَهُ فَقَالَ يَاعُمَرُ مَا يُبْكِيْكَ ؟ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ هَذَا وَلَدُكَ وَمَابَلَغَ اْلحُلُمَ وَلاَ جَرَى عَلَيْهِ اْلقَلَمُ وَيَحْتَاجُ اِلىَ مُلَقِّنٍ مِثْلِكَ يُلَقِّنُهُ التَّوْحِيْدَفىِ مِثْلِ هَذَااْلوَقْتِ. قَمَا حَالُ عُمَرَ وَقَدْ بَلَغَ اْلحُلُمَ وَجَرَى عَلَيْهِ اْلقَلَمُ وَلَيْسَ لَهُ مُلَقِّنٌ مِثْلُكَ, اَىُّ شَىْءٍ تَكُوْنُ صُوْرَتُهُ فِى مِثْلِ هَذِهِ اْلحَالَةِ فَبَكَى النَّبِىُّ صَلَّى الله عليه وسلم وَبَكَتِ الصَّحَاَبةُ مَعَهُ وَنَزَلَ جِبْرِيْلُ وَسَأَلَ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ سَبَبَ بُكَاِئِهمْ فَذَكَرَالنَّبِىَّ صَلَّى الله عليه وسلم مَاقَالَهُ عُمَرُ وَمَاوَرَدَ عَلَيْهِمْ مِنْ قَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَعِدَ جَبْرِيْلُ وَنَزَلَ وَقَالَ رَبُّكَ يُقْرِئُكَ السَّلاَمَ وَيَقُوْلُ يُثَبِّتُ اللهُ اَّلذِيْنَ ءَامَنُوْابِاْلقَوْلِ الثَاِبتِ فىِ اْلحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِى اْلآخِرَةِ يُرِيْدُ بِذَلِكَ وَقْتَ اْلمَوْتِ وَعِنْدَ السَّؤَالِ فِى اْلقَبْرِ..
“Diriwayatkan dari Nabi SAW bahwasannya tatkala putranya Ibrahim telah dikubur, Rasulullah berdiri di atas kuburnya; kemudian beliau bersabda: Wahai anakku, hati berduka cita dan air mata mengalir. Dan kami tidak mengatakan sesuatu yang membuat Allah jadi murka. Sesungguhnya kami dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Wahai anakku katakanlah! Allah Tuhanku dan Islam agamaku, dan Rasulullah ayahku, maka menangislah para sahabat dan menangis pula pula sayyidina Umar Ibnul Khattab dengan tangisan yang nyaring, maka menoleh Rasulullah dan melihat Umar menangis bersama para sahabat lainnya, Rasulullah SAW bersabda; ya Umar mengapa engkau menangis? Umar menjawab: Ini putramu belum baligh dan belum ditulis dosanya, masih menghajatkan kepada orang yang mentalqin seperti engkau, yang mentalqin tauhid pada saat seperti ini, maka bagaimana keadaan Umar yang telah baligh dan telah ditulis dosanya tidak mempunyai orang yang akan menalqin seperti engkau, dan apa gambaran yang akan terjadi di dalam keadaan yang seperti itu, maka menangislah Nabi SAW dan para sahabat bersamanya; kemudian Jibril turun dan bertanya kepada Nabi sebab menangisnya mereka, kemudian Nabi menyebutkan apa yang dikatakan Umar dan apa yang datang kepada mereka dari perkataan Nabi SAW. kemudian Jibril naik dan turun kembali serta berkata : Allah menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: Allah menetapkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang tetap di dunia dan di akherat, yang dimaksud di waktu mati dan di waktu pertanyaan di kubur.”
Kepada yang masih hidup, talqin itu mempunyai mashlahat yang sangat besar, karena dengan mendengarnya mereka dapat mengingat dan menyiapkan diri pada kematian dirinya.
KH Nuril Huda
Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)

Hal Kesaksian Kepada Jenazah

Warga NU sudah tidak berbeda pendapat dalam memahami hadits tentang isyhad atau minta kesaksian agar yang hadir diajak bersaksi bahwa, “Almarhum ini orang baik”. Hanya teknis penyampaian isyhad itu yang sering mengundang kritik.

Misalnya, ada pak kiai yang mamberi sambutan dalam rangka memamitkan jenasah dengan mengatakan: “Meniko jenasah sae nopo awon para rawuh?” (jenasah ini baik apa jelak hadirin?) Otomatis para hadirin serempak menjawab “sae” (baik)!

Biasanya bahkan diulang sampai 3 kali. Persaksian semacam ini masih sering kita dengar di kalangan masyarakat kita. Bagi yang kurang sependapat dengan kebiasaan semacam ini, mungkin akan bilang: “Minta persaksian kok dipaksa!” Artinya, teknis persaksian di atas dipandang ada unsur pemaksaan. Akan tetapi, orang-orang NU punya alasan: Bagaimana tidak menjawab “sae” (baik) kalau kita sedang berada di muka umum!

Mungkin tampak terasa lebih halus bila memilih redaksi bernada “saran”, misalnya: “Hadirin, marilah kita bersama bersaksi bahwa jenazah ini jenasah yang baik…” atau mungkin redaksi lain yang mirip dengan itu, sebab kita hidup dalam budaya timur, dan kita tidak hidup di tahun 40-an.

Mengenai Isyhad yang kita bicarakan ini tentu ada dasar hukumnya.

Dalil Pertama:

Dalam kitab Fathul Wahab, Juz I disebutkan bahwa nunnah hukumnya menyebut kebaikan si mayit bila mengtahuinya. Tujuannya tiada lain untuk mendorong agar lebih banyak yang memintakan rahmat dan berdoa untuknya. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Ibnu Hibban dan Hakim:

اذكروا محاسن موتاكم وكفوا عن مساويهم

Sebutlah kebaikan seorang yang meninggal dunia dan hindari membuka aibnya.

Dalil kedua:

Diriwayatkan dalam shahih Bukhari dan Muslim, dari Abi Bakrah Nafi’ bin Harits, Rasulullah bersabda: Maukah kalian aku beri tahu tentang dosa yang besar? (Rasulullah mengulang sampai 3 kali). Para sahabat menjawab: Bersedia, wahai Rasulullah. Nabi lalu bersabda lagi: Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua (nabi sedang berdiri sambil bersandar, lantas duduk, dan bersabda lagi): Hindarilah kata-kata keji/ bohong dan beraksi dengan kata-kata itu. (Nabi mengulang-ulang perkataan itu sampai kamu berharab dia diam). Saya (Imam an-Nawawi) berkata: hadits-hadits dalam bab ini banyak sekali, tetapi cukuplah apa yang sudah saya sebutkan di atas.

Dalil ketiga :

Nabi bersabda: Setiap muslim yang disaksikan sebagai orang baik oleh 4 orang, Allah akan memasukkan ke surga. Kami (para sahabat) bertanya: Kalau disaksikan 3 orang? Nabi menjawab: Kalau disaksikan 3 orang juga masuk surga. Kalau disaksikan 2 orang? Nabi menjawab: Dua orang juga. Kami tak menanyakan lagi bagaimana kalau hanya dipersaksikan oleh satu orang. (HR. Bukhari)

KH Munawir Abdul Fattah
Pengasuk Pondok Pesantren Kerapyak, Yogyakarta

Tawassul Apakah Bukan Termasuk Syirik?

ada santri yang bertanya. "Apakah bertawasul/berdo'a dengan perantaraan orang yang sudah mati hukumnya haram atau termasuk syirik karena sudah meminta kepada sang mati (lewat perantaraan)? Saya gelisah, karena amalan ini banyak dilakukan oleh masyarakat di Indonesia. Apalagi dilakukan sebelum bulan Ramadhan dengan mengunjungi makam-makam wali dan lain-lain sehingga untuk mendo'akan orang tua kita yang sudah meninggal pun seakan terlupakan," katanya.

Perlu kami jelaskan kembali bahwa tawassul secara bahasa artinya perantara dan mendekatkan diri. Disebutkan dalam firman Allah SWT:

يآأَيُّهاَ الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ


"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, " (Al-Maidah:35).

Pengertian tawassul sebagaimana yang dipahami oleh umat muslim selama ini bahwa tawassul adalah berdoa kepada Allah SWT melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah SWT. Jadi tawassul merupakan pintu dan perantara doa untuk menuju Allah SWT. Tawassul merupakan salah satu cara dalam berdoa.

Banyak sekali cara untuk berdoa agar dikabulkan oleh Allah SWT, seperti berdoa di sepertiga malam terakhir, berdoa di Maqam Multazam, berdoa dengan didahului bacaan alhamdulillah dan shalawat dan meminta doa kepada orang sholeh. Demikian juga tawassul adalah salah satu usaha agar doa yang kita panjatkan diterima dan dikabulkan Allah SWT . Dengan demikian, tawasul adalah alternatif dalam berdoa dan bukan merupakan keharusan

Para ulama sepakat memperbolehkan tawassul kepada Allah SWT dengan perantaraan amal sholeh, sebagaimana orang melaksanakan sholat, puasa dan membaca Al-Qur’an. Seperti hadis yang sangat populer diriwayatkan dalam hadits sahih yang menceritakan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam gua, yang pertama bertawassul kepada Allah SWT atas amal baiknya terhadap kedua orang tuanya; yang kedua bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya yang selalu menjahui perbuatan tercela walaupun ada kesempatan untuk melakukannya; dan yang ketiga bertawassul kepada Allah SWT atas perbuatannya  yang mampu menjaga amanat terhadap harta orang lain dan mengembalikannya dengan utuh, maka Allah SWT memberikan jalan keluar bagi mereka bertiga.

Adapun yang menjadi perbedaan di kalangan ulama adalah bagaimana hukumnya bertawassul tidak dengan amalnya sendiri melainkan dengan seseorang yang dianggap sholeh dan mempunyai martabat dan derajat tinggi di mata Allah SWT. Sebagaimana ketika seseorang mengatakan: “Ya Allah SWT aku bertawassul kepada-Mu melalui nabi-Mu Muhammmad SAW atau Abu Bakar atau Umar dll”. Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah ini.

Pendapat mayoritas ulama mengatakan boleh, namun beberapa ulama mengatakan tidak boleh. Akan tetapi kalau dikaji secara lebih detail dan mendalam, perbedaan tersebut hanyalah sebatas perbedaan lahiriyah bukan perbedaan yang mendasar karena pada dasarnya tawassul kepada dzat (entitas seseorang), adalah tawassul pada amal perbuatannya, sehingga masuk dalam kategori tawassul yang diperbolehkan oleh ulama’. Pendapat ini berargumen dengan prilaku (atsar) sahabat Nabi SAW:

عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ إِنَّ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ كَانَ إِذَا قَحَطُوْا اسْتَسْقَى بِالعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ المُطَلِّبِ فَقَالَ  اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إَلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتُسْقِيْنَا وَإِنَّا نَنَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَافَيَسْقُوْنَ. أخرجه الإمام البخارى فى صحيحه ج: 1 ص:137


“Dari Anas bin malik bahwa Umar bin Khattab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muttalib, lalu Umar berkata: "Ya Allah, kami telah bertawassul dengan Nabi kami SAW dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawassul dengan Paman Nabi kita SAW, maka turunkanlah hujan..”. maka hujanpun turun.” (HR. Bukhori)

Imam Syaukani mengatakan bahwa tawassul kepada Nabi Muhammad SAW  ataupun kepada yang lain (orang shaleh), baik pada masa hidupnya  maupun  setelah meninggal adalah merupakan ijma’ para sahabat. "Ketahuilah bahwa tawassul bukanlah meminta kekuatan orang mati atau yang hidup, tetapi berperantara kepada keshalihan seseorang, atau kedekatan derajatnya kepada Allah SWT, sesekali bukanlah manfaat dari manusia, tetapi dari Allah SWT yang telah memilih orang tersebut hingga ia menjadi hamba yang shalih, hidup atau mati tak membedakan atau membatasi kekuasaan Allah SWT, karena ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah SWT tetap abadi walau mereka telah wafat."

Orang yang bertawassul dalam berdoa kepada Allah SWT menjadikan perantaraan berupa sesuatu yang dicintai-Nya dan dengan berkeyakinan bahwa Allah SWT juga mencintai perantaraan tersebut. Orang yang bertawassul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah SWT bisa memberi manfaat dan madlarat kepadanya. Jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang dijadikan perantaraan menuju Allah SWT itu bisa memberi manfaat dan madlarat, maka dia telah melakukan perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan madlarat sesungguhnya hanyalah Allah SWT semata.

Jadi kami tegaskan kembali bahwa sejatinya tawassul adalah berdoa kepada Allah SWT melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal baik kita ataupun melalui orang sholeh yang kita anggap mempunyai posisi lebih dekat kepada Allah SWT. Tawassul hanyalah merupakan pintu dan perantara dalam berdoa untuk menuju Allah SWT. Maka tawassul bukanlah termasuk syirik karena orang yang bertawasul meyakini bahwa hanya Allah-lah yang akan mengabulkan semua doa. Wallahu a’lam bi al-shawab.

catatan dari :
H M. Cholil Nafis
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBN

Selasa, Desember 22, 2009

Bukti Foto-foto Rumah Nabi Saw dan Sayyidah Khadijah Yang Telah Dihancurkan Wahabi-Salafy

Pada waktu yang lalu, saya telah mem-post-kan sebuah artikel yang membahas tentang ‘Penghacuran Situs-situs Sejarah Oleh Wahabi-Salafy’. Nah, pada kesempatan ini saya akan membeberkan beberapa foto yang membuktikan tentang kebejatan kaum Wahabi-Salafy yang telah dengan brutal menghancurkan Rumah Nabi Saw dan istri tercintanya, Sayyidah Khadijah as, yang merupakan peninggalan bersejarah, yang semestinya dirawat dan dijaga dengan baik. Peninggalan-peninggalan seperti ini merupakan situs-situs penting yang bisa menjadi pelajaran yang baik bagi orang-orang terkemudian.
rumah-nabi-sayyidah-khadijah-tempat-mereka-berdua-tinggal-selama-25-tahun-pun-dibongkar.jpg
Ini adalah foto Rumah Nabi Saw dan Sayyidah Khadijah as, tempat mereka berdua tinggal selama 28 tahun. Inilah bukti penghancuran yang dilakukan oleh Wahabi-Salafy terhadap situs-situs sejarah Islam.
reruntuhan-rumah-khadijah_o.jpg
Di atas ini foto sisa reruntuhan rumah Nabi Saw & Sayyidah Khadijah as yang dilihat lebih dekat.
pintu-masuk-kmr-rasul-di-rmh-khadijah_o.jpg
Foto di atas ini adalah reruntuhan pintu masuk ke kamar Rasul Saw di rumah Sayyidah Khadijah as.
kamara-nabi-sayyidah-khadijah.jpg
Foto di atas adalah sisa reruntuhan kamar Rasul Saw dan Sayyidah Khadijah as.
tempat-ketika-sayyidah-fathimah-zahra-dilahrirkan_o.jpg
Di atas ini adalah foto reruntuhan tempat Sayyidah Fatimah as, putri kesayangan Rasulullah Saw dilahirkan.
mihrab-tempat-rasulullah-biasa-shalat-di-rmh-khadijah_o.jpg
Di atas ini adalah foto reruntuhan mihrab tempat Rasulullah saw biasa melakukan shalat.
kuburan-sayyidah-khadijah-al-kubra-putranya-qasim-di-pojok_o.jpg
Foto di atas ini adalah makam Sayyidah Khadijah as (yang besar) dan putranya, Qasim (yang kecil) di sudut.
Pada postingan selanjutnya, saya akan memaparkan foto-foto makam-makam ahlul bayt, para sahabat, dan istri-istri serta kerabat dekat Rasulullah Saw yang dibiarkan terlantar oleh Wahabi-Salafy. Insya Allah.
Catatan :
Sebagian besar foto-foto tersebut saya peroleh dari kitab : Ummul Mu’minin, Khadijah binti Khuwaylid, Sayyidah Fie Qalby al-Mushtafa karya DR. Muhammad Abduh Yamani yang telah diterjemahkan oleh penerbit Pustaka IIMaN dengan judul : Khadijah Drama Cinta Abadi sang Nabi. Penulis adalah mantan Menteri Penerangan Kerajaan Arab Saudi.

Jangan Pernah Meremehkan Sholat

Meremehkan Shalat Menurut Muthahhari

1348_blog
Ummu Hamidah bercerita kepada Abu Bashir bahwa menjelang wafat, Imam al-Shadiq as memanggil keluarga dan kerabatnya. Setelah semua berkumpul dan duduk di sisinya, Imam membuka mata, memandangi mereka, lalu berkata, “Syafaat kami tidak akan pernah sampai kepada orang yang meremehkan shalat.”
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Imam menghadap Kekasih Agung. Imam tidak mengatakan, “Syafaatku tidak akan sampai kepada orang yang meninggalkan shalat.”
Kita tentu menyadari apa maksud dan tujuan wasiatnya itu. Jadi, apa maksud meremehkan shalat dan siapakah orang yang disebut meremehkan shalat?
Orang disebut meremehkan shalat ketika ia punya waktu cukup untuk mengerjakan shalat dengan baik dan tumakninah tetapi la tidak mengerjakannya. Dia tidak shalat Zuhur atau Asar kecuali setelah matahari hampir terbenam, lalu buru-buru berwudu dan tergesa-gesa shalat, tidak mengerjakan sunah-sunah shalat, tidak tumakninah, terlebih lagi khusyuk. Apakah shalatnya layak disebut shalat? Shalat seperti ini jelas sangat tidak memadai.
Orang yang mau shalat dengan sungguh-sungguh, ia akan bersiap-siap menyambut kedatangannya. Setelah masuk waktu zuhur, misalnya, la berwudu dengan tenang sesuai aturan, lalu berdiri di tempat shalat, lalu azan dan iqamah dengan tenang dan khusyuk. Lalu, ia memulai shalat dengan tumakninah dan menjaganya hingga salam. Setelah itu, la tidak langsung berdiri tetapi berdiam di tempat, membaca wirid, dan berzikir kepada Allah.
Uraian di atas menegaskan nilai penting shalat, terlebih lagi jika dilakukan di rumah bersama keluarga. Sebab, berdasarkan pengalaman, anak-anak tidak akan shalat jika orang dewasa yang tinggal serumah meremehkan shalat. Misalnya, shalat Subuh baru dikerjakan setelah matahari terbit, shalat Asar menjelang Magrib, Isya molor hingga empat jam. Tak hanya molor, ia pun mengerjakannya secara tergesa-gesa.
Oleh Karena itu, kita tidak boleh meremehkan atau menyepelekan urusan shalat, atau merasa cukup hanya mengerjakan wajib shalat, lalu mencari dalih untuk meninggalkan sunah dengan meminta fatwa bagaimana hukum tasbih yang empat, apakah tidak cukup tiga ataukah cukup satu saja.
Dan, orang yang dimintai fatwa pasti akan menjawab, satu pun cukup, tetapi untuk lebih hati-hati, mestinya dibaca tiga kali. Setelah itu, ia membaca tasbih hanya satu kali seraya mengatakan bahwa perbuatannya itu didukung oleh fatwa yang didasarkan atas sumber yang dapat dipercaya.
Sikap seperti ini berarti ‘lari’ dari shalat. Kita harus berpikir lebih bijak. jika mufti mengatakan satu saja cukup, dan selebihnya sunah, kita tetap harus mengerjakan yang sunah jika masih ada waktu. *)
___________________
*) Murtadha Muthahhari, Thaharat al-Ruh, Mu’assasat al-Tarikh al-‘Arabi.Energi Salat, hlm. 105-107, Penerbit Serambi, 2007.
Sudahkah kita shalat seperti apa yang gambarkan di atas oleh al-Syahid Murtadha Muthahhari?
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,” (QS al-Baqarah :45)
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang (shalatnya) ingin dilihat orang, dan enggan (memberikan) barang berguna .” (QS al-Ma’un [107]:4-7)

Siapa Ali Akbar bin Husain bin Ali?

Siapa Ali Akbar bin Husain bin Ali?


Oleh Imam Musa Shadr
Untuk seorang pemuda beriman, pemberani, pembawa cahaya, dan pejuang Islam, Ali Akbar bin Husain bin Ali as : “Para malaikat masuk mengunjungi mereka dari semua pintu, seraya mengucapkan : “Salamun ‘alaikum bima shabartum – Salam atas kesabaran kalian “. Alangkah bagusnya tempat kesudahan itu.” (QS 13:23-24)
Ali Akbar adalah putra Imam Husain bin Ali as. Nama ibunya adalah Laila binti Abu Murrah bin Urwah. la mempunyai badan yang lebih be­sar dibandingan kakaknya, Ali Zainal Abidin bin Husain. Oleh karena itu, ia digelari Ali Akbar (Ali yang berbadan besar).
Ali Akbar dibesarkan oleh seorang ayah yang menjadi cucu kesayangan Rasulullah Saw, dan seorang ibu yang berakhlak mulia. la meneguk keimanan dan menyerap ilmu dan ma’rifat dari ayahandanya. Maka tumbuhlah Ali Akbar men­jadi seorang pemuda saleh, pemberani, cinta per­juangan, dan berani berkorban. Tidak sedikit pun kelemahan terpancar dari jiwanya. la seorang pemuda yang tangkas mengendarai kuda. Para ahli sejarah menganggapnya sebagai pemuda Ba­ni Hasyim yang mahir mengendarai kuda.
Sejak kecil sudah tampak keistimewaan yang dimiliki Ali Akbar yaitu sangat cermat dan berpandangan luas. Sifat-sifat inilah yang sangat dikenal musuh-musuhnya.
Apabila para pejuang Karbala kita bariskan, maka akan kita dapati Ali Akbar berada di shaff (baris) terdepan. Begitu pula dalam kecerdikan, keberanian, dan perjuangannya, ia selalu tampil terdepan.
Kesetiaan dan Perjuangannya
Ali Akbar didampingi Ayahanda dan saudaranya beserta pasukan yang menyertainya bergerak menuju medan pertempuran. Mereka menyadari bahwa berbagai rintangan sudah siap menghadang. Namun tanpa gentar sedikit pun mereka terus bergerak sambil mengibarkan panji-panji perlawanan kaum tertindas.
Ali Akbar berjuang bahu-membahu bersama mereka untuk menegakkan kebenaran. Jumlah musuh yang begitu banyak tidak membuatnya gentar. Itulah sifat dan akhlaknya yang memang sesuai dengan kedudukannya. Bagaimana tidak, Ali Akbar adalah putra Imam Husain as, pemuka para syuhada, putra suci nubuwah, dan cucu kesayangan Rasulullah Saw.
Di tengah perjalanan, Imam Husain as. mendapat berita tentang syahidnya Muslim bin Aqil dan Hani bin Urwah. Beliau memahami bahwa penduduk Kufah telah MENGINGKARI JANJI SETIANYA.
Ia lalu menyampaikan berita ini kepada para pengikutnya. Setelah tahu apa yang telah terjadi, sebagian pengikutnya yang mempunyai iman dan jiwa yang lemah, Serta merta berlarian meninggalkan Imam Husain as. Hanya sebagian kecil sahabatnya yang masih setia menyertai.
Kejadian ini disaksikan sendiri oleh Ali Akbar. Sungguh kecewa hatinya melihat orang-orang yang menyia-nyiakan kesempatan emas untuk meraih SYAHADAH ini. Namun hal itu tidak melemahkan jiwanya sedikit pun. Ketegarannya bertambah ketika melihat keimanan dan kesabaran yang dimiliki oleh saudara-saudaranya, yang dengan tulus menyertai perjuangan ayahnya.
Pendamping Ayahnya
Kafilah Imam Husain as. meneruskan perjalanannya hingga sampai di suatu tempat bernama Dzu Hasmin. Di sana, tentara Ibnu Ziyad yang dipimpin oleh Al-Hurr bin Yazid Ar-Riyahi, siap menyongsong kedatangan mereka. Menghadapi situasi seperti ini, dengan gagahnya, Ali Akbar berdiri di antara ayahnya dan pasukan Al-Hurr.
Ia melayangkan pandangannya ke arah pasukan musuh yang menghadangnya. Dengan ruh kakeknya, Imam Ali as, ia siap menghadapi musuh dan menyongsong syahadah. Di bawah komando ayahnya, Ali Akbar menggerakkan para pejuang Karbala.
Allah berfirman, “Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhannya maka Kami menambah petunjuk kepada mereka.” (QS Al-Kahfi: 13)
Awal Pertempuran
Cahaya fajar hari Asyura menyinari para pejuang Islam yang sudah siap tempur melawan pasukan Umawiyah. Motif perjuangan mereka hanya satu yaitu berjuang di jalan Allah. Mereka siap menghadapi pasukan musuh yang dipimpin A’wan bin Sa’ad. Darah-darah mereka siap dicurahkan untuk membela kebenaran.
Pertempuran hebat sudah dimulai. Para sahabat Imam Husain as. mulai berguguran. Dalam keadaan seperti ini, dengan sabar Imam Husain as. menyeru musuh-musuhnya agar kembali kepada kebenaran dan keadilan.
Dadanya terbakar oleh api kecewa atas ulah mereka. Sesungguhnya Imam Husain as. tidak memberontak atas kepemimpinan Yazid. Namun, melihat kebrutalan yang dilakukan Yazid, Imam ingin melindungi dan membela orang-orang tertindas. Imam ingin menolong agama Allah yang diinjak-injak Yazid. la tidak takut dan tidak akan tunduk kecuali kepada Allah Swt.
Dalam kecamuk pertempuran, Imam Husain as. tidak henti-hentinya memberi peringatan dan ajakan kepada musuh-musuhnya agar kembali kepada kebenaran. Namun karena kehidupan mereka sudah diliputi CINTA DUNIA dan KEJUMUDAN, sehingga sedikit pun mereka tidak terdorong untuk taat kepada Allah dan beramal untuk meraih ridha-Nya.
Keteguhannya di Medan Pertempuran
Ketika pasukan Ibnu Ziyad mengepung dan menyerang para pengikut Imam Husain as, Ali Akbarlah yang pertama kali menyambut serangan mereka. Jumlah musuh yang begitu banyak dengan persenjataannya yang lengkap, tidak sedikit pun menggetarkan nyali Ali Akbar. Setelah pertempuran yang sangat hebat itu berlalu beberapa saat, sebagian besar para pembela Imam Husain as. berguguran. Jasad-jasad mereka seakan-akan dipeluk mesra oleh tanah Karbala yang sudah basah tersiram darah-darah suci mereka. Pada saat itu, di sekeliling Imam Husain as. Yang tersisa hanya tinggal anggota keluarganya saja.
Pada malam ASYURA, para pemuda Bani Hasyim bertekad mempertaruhkan jiwa mereka sampai titik darah penghabisan. Mereka tidak rela melihat putra Imam Husain r.a. dibantai dihadapan mata kepada mereka sendiri. Keesokan harinya, pada tanggal 10 MUHARRAM, mereka terjun ke medan pertempuran hingga satu persatu berguguran. Semangat dan keberanian dalam kalbu mereka untuk tetap menegakkan kebenaran dan kerinduan meraih syahadah telah menggerakkan mereka untuk maju terus pantang mundur.
Ali Akbar, dengan penuh hormat, meminta izin kepada ayahnya untuk ikut terjun ke medan pertempuran. Dengan penuh haru dan derai air mata, Imam Husain as. mengizinkan putranya ikut bertempur.
Imam memperhatikan putranya lalu menengadah ke langit seraya berujar lirih : “Ya Allah, saksikanlah orang-orang ini. Di antara mereka ada seorang pemuda yang perawakannya, perilaku dan cara bicaranya paling menyerupai Rasulullah. Apabila kami merasa sangat rindu kepada Nabi-Mu,maka kami pandangi wajahnya.Ya Allah Jangan Engkau berikan keberkahan atas bumi ini kepada musuh-musuhnya. Cerai beraikan mereka. Koyakkan dada-dada mereka. Jangan kau ridhai kekuasaan mereka selama-lamanya. Kami telah menyeru dan mengajak mereka kepada kebenaran, namun mereka malah memusuhi dan memerangi kami.”
Dihadapan musuh-musuhnya, Ali Akbar mengumandangkan sebait syair,
“Aku Ali bin Husain bin Ali
Kami Ahlul Bait yang dimuliakan Nabi
Akan kutikam kalian dengan lembingku ini
hingga kalian terkapar mati
Akan kutebas kalian dengan pedangku ini
untuk melindungi Ayahku Ali
Dengan suatu tebasan pemuda Hasyimi
Demi Allah, diatur oleh anak Ziyad,
aku tak sudi”
Pertempuran yang begitu hebat telah membuat jumlah pejuang yang gugur makin bertambah, Ali Akbar yang badannya sudah penuh luka, kembali menghadap ayahnya sambil berkata, “Ayah rasa haus telah membuatku lelah; berat pedang ini telah menguras tenagaku. Adakah air yang bisa kuteguk?”
Imam Husain as. menangis melihat penderitaan putranya, lalu ia berkata, “Wahai anakku, kembalilah ke medan pertempuran. Aku berharap sebelum masuk sore hari kakekmu (Rasulullah Saw.) akan memberimu minum dari gelas yang bening, yang tidak akan membuatmu haus untuk selama-lamanya.”
Kalimat-kalimat lembut yang meluncur dari ayahnya membuat hati Ali Akbar bagaikan disirami tetesan air yang menyejukkan. la pun kembali ke medan pertempuran dengan gagahnya. Orang-orang Kufah yang hendak membunuhnya merasa takut berhadapan dengan Ali Akbar, karena Ali Akbar sangat menyerupai Rasulullah Saw.
Syahadah
Ibnu Sa’ad memerintahkan anak buahnya mengepung Ali Akbar, setelah ia sendiri merasa tidak mampu menaklukannya. Munqidz bin Murrah dari kabilah Abdul Qais, secara tiba-tiba membokong Ali Akbar dengan menebas punggungnya. Ali Akbar tampak terkulai di atas leher kudanya.
Melihat hal itu, musuh-musuhnya yang tadi mengepungnya serta merta mengibas-ibaskan pedang-pedang mereka ke arah Ali Akbar. Ketika akan meninggalkan jasadnya, Ali Akbar berteriak kegirangan,
“Wahai Ayah, kakek (Rasulullah) memberiku minum dari gelasnya yang bening. la memberiku minuman yang tidak akan membuatku haus selamanya, beliau berkata kepadaku, “Segeralah, segeralah…”
Saat-saat Terakhir
Dengan garangnya Imam Husain as. mencerai-beraikan pasukan musuh yang sedang mengoyak-ngoyak jasad putranya. Diangkatlah kepala putranya itu kemudian diletakkan di pangkuannya. Darah dan tanah yang melumuri wajahnya, beliau bersihkan dengan lembut.
Sambil menangis Imam Husain as. berteriak, “Semoga Allah membinasakan orang-orang yang telah membunuhmu. Betapa durhakanya mereka kepada Allah dan Rasul-Nya,” lalu ia Derkata lagi, “Tidak ada artinya dunia ini setelah Kepergianmu, Nak!”
Imam Husain as. memerintahkan para pemuda Bani Hasyim untuk membawa jenazah putranya ke dalam kemah. Melihat keponakannya terbunuh, Zainab al-Kubra as. keluar dari kemahnya sambil berteriak-teriak mengutuk para pembunuhnya. la meratapi kepergian Ali Akbar sambil berkata sendu, “Duhai kekasihku, duhai mata hatiku, duhai cahaya mataku, duhai anak saudaraku,” kemudian ia menjatuhkan badannya di atas jenazah suci Ali Akbar sehingga air matanya membasahi wajah keponakannya.
Imam Husain as. kemudian menghentikan tangisannya dan mengembalikan Zainab as. ke kemahnya .
Pelajaran Yang Disampaikan Ali Akbar
Para syuhada Karbala yang gugur dalam perjuangan, ternyata telah memberikan pelajaran yang teramat penting bagi manusia tentang hakikat kehidupan ini: Bagaimana mengutamakan orang lain, dan membela kebenaran. Salah satu dari mereka adalah Ali Akbar. la membawa cahaya hidayah untuk menerangi jiwa-jiwa manusia dengan syahadah dan darahnya bagi kebangkitan Islam di Karbala.
la pun telah meraih ridha Ilahi dengan memenuhi seruan Al-Quran agar menjual dirinya kepada Allah dan menempuh jalan para syuhada pendahulunya. la memilih syahid di jalan Allah dalam memerangi manusia¬manusia durhaka.
Ali Akbar memberi pelajaran kepada kita dengan peristiwa Karbala ini tentang kebenaran, keadilan, dan kesucian. Kita pun mendapat pela¬jaran dari para pejuang Karbala tentang keperwiraan dan kejantanan. Maka sudah sepantasnya kita memelihara apa-apa yang sudah mereka persembahkan melalui curahan darahnya. Semoga kesejahteraan dan keselamatan dicurahkan kepada mereka.
Revolusi Terbesar dalam Sejarah Umat Manusia
Sudah sepantasnya bagi kaum Muslim dan Mukmin menyadari bahwa darah Imam Husain as, putra-putranya, dan darah para pembelanya yang tercurah di bumi Karbala pada hari Asyura, akan terus bergejolak menerangi jiwa-jiwa manusia sepanjang zaman. Ketika alam telah diselimuti malam yang pekat, dan ketika awan tebal menghalangi jalannya cahaya, maka pada saat seperti inilah, kita harus menempuh jalan yang telah dirintis Imam Husain as. bersama para putra dan pembelanya.
Sesungguhnya api revolusi dan darah suci para syuhada akan menyinari kegelapan, menyingkap berbagai penghalang sehingga kebenaran dan keadilan tampak. Sungguh Revolusi Karbala akan berdiri tegak menghalau para penindas dan para penguasa. Sesungguhnya gerakan para pejuang Karbala dan kesyahidan mereka, telah mengangkat Dinul Islam mencapai kemuliannya sehingga terketullah telinga-telinga kemanusiaan. Seruan mereka di Karbala adalah seruan berjuta-juta orang yang tertindas dan yang dirampas haknya: seruan agar perbuatan aniaya yang menghisap darah manusia segera dihentikan; seruan yang menyongsong kemenangan untuk membela Islam.
Mereka telah memilih jalan ini untuk melawan para penindas demi tegaknya kebenaran dan keimanan. Cahaya Revolusi Karbala akan tetap bersinar selama-lamanya apinya akan tetap menyala di hati orang-orang yang jiwanya merdeka baik laki-laki ataupun wanita, sesungguhnya nyala api Karbala adalah nyala api berupa cahaya, yang akan membakar setan-setan bersama para pengikutnya. Itulah cahaya harapan dan kebahagiaan untuk melepaskan dan memerdekakan manusia dari belenggu perbudakan.
(Selesai)

Ternyata kulit kita Bisa Mendengar



KOMPAS.com - Tak hanya dengan telinga, menurut penelitian terbaru, kita ternyata juga bisa mendengarkan lewat kulit. Berdasarkan percobaan dimana para sukarelawan mendengarkan suku kata-suku kata tertentu sementara udara dihembuskan pada kulit mereka, terbukti bahwa otak manusia menerima dan menyatukan informasi dari berbagai indra untuk membentuk gambaran daerah sekitar.
Disandingkan dengan penelitian-penelitian baru lainnya, penemuan ini menyentil pandangan tradisional tentang cara kita mengamati sekeliling kita.
“Penemuan ini jauh berbeda dari pendapat-pendapat tradisional yang mengatakan bahwa karena kita punya mata maka kita pikir kita melihat informasi visual, dan karena punya telinga maka kita mendengar informasi audio. Pendapat ini agak menyesatkan,” kata peneliti Bryan Gick dari Universitas British Columbia, Vancouver.
“Penjelasan yang lebih tepat adalah karena kita punya otak maka kita bisa mengamati, bukan karena kita punya mata dan telinga untuk melihat dan mendengar.”
Dengan kemampuan seperti ini, Gick memandang manusia sebagai ‘alat pengamat dengan seluruh tubuh’.
Penelitian ini, yang dibiayai oleh Natural Sciences, Dewan Ilmu Teknik Kanada dan Institut Nasional Kesehatan (Kanada), dijabarkan dalam jurnal Nature edisi 26 November.
Cara pengamatan kita
Hasil kerja Gick berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya menyatakan bahwa kita bisa melihat suara dan mendengar cahaya, walaupun kita tak menyadarinya. Penelitian lainnya juga menunjukkan bahwa bila kita mengamati bibir orang lain bergerak dan kita menyangka orang itu berbicara, maka daerah pendengaran otak kita menjadi aktif, kata Gick.
Para ilmuwan menjelaskan kemampuan pengindraaan seperti itu sebagai hasil dari pengalaman, karena kita sering melihat dan mendengar orang berbicara maka selayaknya kita belajar menyatukan apa yang terlihat dengan yang terdengar.
Penjelasan alternatifnya ialah adanya suatu kemampuan tersembunyi. Maka Gick dan koleganya, Donald Derrick, yang juga dari Universitas British Columbia, mempelajari dua indra yang biasanya tidak disandingkan, yaitu pendengaran dan peraba, untuk melihat dasar dari persepsi.
Bagaimana kulit mendengar
Tim penelitian berfokus pada suara-suara yang mengeluarkan hembusan nafas ketika diucapkan, seperti “pa” dan “ta”, dan juga suara-suara tanpa hembusan, seperti “ba” dan “da”.
Para partisipan yang ditutup matanya mendengarkan suara pria yang mengucapkan keempat suku kata itu dan harus menekan tombol untuk menjawab apakah suara yang mereka dengar itu pa, ta, ba atau da. Para partisipan terbagi tiga kelompok, masing-masing 22 orang, dimana grup pertama mendengarkan semua suku kata itu sementara udara dihembuskan ke tangan mereka, grup kedua dengan hembusan ke leher, dan grup ketiga tanpa hembusan sama sekali.
Sekitar 10 persen dari total kejadian adalah ketika udara dihembuskan ke kulit, para partisipan salah menebak suku kata yang mustinya tidak berhembusan sebagai yang berhembusan. Jadi ketika diucapkan “ba”, partisipan yang dihembukan udara mengira mereka mendengar “pa”. Grup pengendali tidak menunjukkan terjadinya salah tangkap seperti itu.
Penelitian lanjutan, dimana para partisipan disentuh kulitnya daripada dihembuskan udara, menunjukkan bahwa tak terjadi kesalahan antara suara yang memiliki hembusan atau tidak.
Selanjutnya Gick sedang bekerja dengan sejumah ilmuwan dari Universitas California, San Fransisco, utuk menemukan bagaimana otak bisa menyatukan berbagai indra.

Islam Radikal atau Wahabisme Menyusup Ke SMU-SMU

Beberapa hasil penelitian menemukan fakta lapangan bahwa gerakan dan jaringan radikalisme Islam telah lama menyusup ke sekolah umum, yaitu SMU. Siswa-siswi yang masih sangat awam soal pemahaman agama dan secara psikologis tengah mencari identitas diri ini menjadi lahan yang diincar oleh pendukung ideology radikalisme. Targetnya bahkan menguasai organisasi siswa intra sekolah (OSIS), paling tidak bagian rohani Islam (ROHIS).
Tampaknya jaringan ini telah mengakar dan menyebar di berbagai sekolah, sehingga perlu dikaji dan diresponi secara serius, baik oleh pihak sekolah, pemerintah dan orangtua. Kita tentu senang anak-anak itu belajar agama. Tetapi yang mesti diwaspadai adalah ketika ada penyebar ideology radikal yang kemudian memanfaatkan symbol, sentimen dan baju Islam untuk melakukan cuci otak (brainwash) pada mereka yang masih pemula belajar agama untuk tujuan yang justeru merusak agama dan menimbulkan konflik.
Ada beberapa ciri dari gerakan ini yang perlu diperhatikan oleh guru dan orangtua. Pertama, para tutor penyebar ideologi kekerasan itu selalu menanamkan kebencian terhadap negara dan pemerintahan. Bahwa pemerintahan Indonesia itu pemeritahan taghut, syaitan, karena tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai dasarnya. Pemerintahan manapun dan siapapun yang tidak berpegang pada Al-Qur’an berarti melawan Tuhan dan mereka mesti dijauhi, atau bahkan dilawan.
Kedua, para siswa yang sudah masuk pada jaringan ini menolak menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, terlebih lagi upacara hormat bendera. Kalaupun melakukan, itu semata hanya untuk mencari selamat, tetapi hatinya mengumpat. Mereka tidak mau tahu bahwa sebagai warga negara mesti mengikuti dan menghargai tradisi, budaya dan etika berbangsa dan bernegara, dibedakan dari ritual beragama.
Ketiga, ikatan emosional pada ustadz, senior dan kelompoknya lebih kuat dari ikatan keluarga dan almamaternya. Keempat, kegiatan yang mereka lakukan dalam melakukan pengajian dan kaderisasi bersifat tertutup dengan menggunakan lorong dan sudut-sudut sekolah sehingga terkesan sedang studi kelompok. Lebih jauh lagi untuk pendalamannya mereka mengadakan outbond atau mereka sebut rihlah, dengan agenda utamanya renungan dan baiat.
Kelima, bagi mereka yang sudah masuk anggota jamaah dikenakan membayar uang sebagai pembersihan jiwa dari dosa-dosa yang mereka lalukan. Jika merasa besar dosanya, maka semakin besar pula uang penebusannya.
Keenam, ada di antara mereka yang mengenakan pakaian secara khas yang katanya sesuai dengan ajaran Islam serta bersikap sinis terhadap yang lain.
Ke tujuh, umat Islam di luar kelompoknya dianggap fasiq dan kafir sebelum melakukan hjrah bergabung dengan mereka.
Ke delapan, mereka enggan dan menolak mendengarkan ceramah keagamaan di luar kelompoknya. Meskipun pengetahuan mereka tentang Al-Qur’an masih dangkal, namun mereka merasa paling benar keyakinan agamanya sehingga meremehkan dan bahkan membenci ustad di luar kelompoknya.
Kesembilan, di antara mereka itu ada yang kemudian keluar setelah banyak bergaul, diskusi secara kritis dengan ustadz dan intelektual di luar kelompoknya, namun ada juga yang kemudian bersikukuh dengan keyakinannya sampai masuk ke perguruan tinggi.
JUGA MENYUSUP KE KAMPUS-KAMPUS
Mengingat jaringan Islam yang tergolong garis keras (hardliners) menyebar di berbagai SMU di kota-kota Indonesia, maka sangat logis kalau pada urutannya mereka juga masuk ke ranah perguruan tinggi. Bahkan, menurut beberapa sumber, alumni yang sudah duduk sebagai mahasiswa selalu aktif berkunjung ke almamaternya untuk membina adik-adiknya yang masih di SMU. Ketika adik-adiknya masuk ke Perguruan Tinggi, para seniornya inilah yang membantu beradabtasi di kampus sambil memperluas jaringannya.
Beberapa sumber menyebutkan, kampus adalah tempat yang strategis dan leluasa untuk menyebarkan gagasan radikalisme ini dengan alasan di kampuslah kebebasan berpendapat, berdiskusi dan berkelompok dijamin. Kalau di tingkat SMU pihak sekolah dan guru sesungguhnya masih mudah intervensi, tidaklah demikian halnya di kampus. Mahasiswa memiliki kebebasan karena jauh dari orangtua dan dosen pun tidak akan mencampuri urusan pribadinya.
Namun karena interaksi intelektual berlangsung intensif, deradikalisasi di kampus lebih mudah dilakukan dengan menerapkan materi dan metode yang tepat. Penguatan mata kuliah Civic Education dan Pengantar Studi Islam secara konprehensif dan kritis oleh Professor ahli mestinya dapat mencairkan faham keislaman yang ekslusif dan sempit serta merasa paling benar.
Sejauh ini kelompok-kelompok radikal mengindikasikan adanya hubungan famili dan persahabatan yang terbina di luar wilayah sekolah dan kampus. Yang patut diselidiki juga menyangkut dana. Para aktivis radikalis itu tidak saja bersedia mengurbankan tenaga dan pikiran, namun rela tanpa di bayar untuk memberikan ceramah keliling. Lalu kalau berbagai kegiatan itu memerlukan dana, diri mana sumbernya? Ini juga suatu teka-teki.
Disinyalir memang ada beberapa organisasi keagamaan yang secara aspiratif dekat atau memiliki titik singgung dengan gerakan garis keras ini. Mereka bertemu dalam hal tidak setia membela NKRI dan Pancasila sebagai ideologi serta pemersatu bangsa. Mereka tidak bisa menghayati dan menghargai bahwa Islam memiliki surplus kemerdekaan dan kebebasan di negeri ini. Di Indonesia ini ada Parpol Islam, Bank Syariah, UU Zakat dan Haji dan sekian fasilitas yang diberikan pemerintah untuk pengembangan agama. Kalau pun umat Islam tidak maju atau merasa kalah, lakukanlah kritik diri, tetapi jangan rumah bangsa ini dimusuhi dan dihancurkan karena penghuni terbanyak yang akan merugi juga umat Islam.
Kita berharap baik Mendiknas maupun Menag menaruh perhaian serius terhadap gerakan radikalisasi keagamaan di kalangan pelajar.

Jumat, Desember 18, 2009

Mencintai

Jika cinta kepada selain Allah, melebihi cinta pada Allah, merupakan salah satu penyebab do’a tak terijabah.

Bagaimana mungkin Allah mengabulkan permintaan seorang hamba yang merintih menengadah kepada Allah di malam hari, namun ketika siang muncul, dia pun melakukan maksiat.

Bagaimana mungkin do’a seorang gadis ingin mendapatkan seorang laki-laki sholeh terkabulkan, sedang dirinya sendiri belum sholehah.

Bagaimana mungkin do’a seorang hamba yang mendambakan rumah tangga sakinah, sedang dirinya masih diliputi oleh keegoisan sebagai pemimpin rumah tangga..

"Jika mencintai dunia niscaya kita akan binasa, Jika mencintai Allah niscaya dunia akan melayani kita" (Aa Gym)

Senin, November 23, 2009

Abu Hurairah R.A

Masa muda

Abu Hurairah berasal dari kabilah Bani Daus dari Yaman. Ia diperkirakan lahir 21 tahun sebelum hijrah, dan sejak kecil sudah menjadi yatim. Nama aslinya pada masa jahiliyah adalah Abdus-Syams (hamba matahari) dan ia dipanggil sebagai Abu Hurairah (ayah/pemilik kucing) karena suka merawat dan memelihara kucing. Ketika mudanya ia bekerja pada Basrah binti Ghazawan, yang kemudian setelah masuk Islam dinikahinya.

Menjadi muslim

Thufail bin Amr, seorang pemimpin Bani Daus, kembali ke kampungnya setelah bertemu dengan Nabi Muhammad dan menjadi muslim. Ia menyerukan untuk masuk Islam, dan Abu Hurairah segera menyatakan ketertarikannya meskipun sebagian besar kaumnya saat itu menolak. Ketika Abu Hurairah pergi bersama Thufail bin Amr ke Makkah, Nabi Muhammad mengubah nama Abu Hurairah menjadi Abdurrahman (hamba Maha Pengasih). Ia tinggal bersama kaumnya beberapa tahun setelah menjadi muslim, sebelum bergabung dengan kaum muhajirin di Madinah tahun 629. Abu Hurairah pernah meminta Nabi untuk mendoakan agar ibunya masuk Islam, yang akhirnya terjadi. Ia selalu menyertai Nabi Muhammad sampai dengan wafatnya Nabi tahun 632 di Madinah.

Peran politik

Umar bin Khattab pernah mengangkat Abu Hurairah menjadi gubernur wilayah Bahrain untuk masa tertentu. Saat Umar bermaksud mengangkatnya lagi untuk yang kedua kalinya, ia menolak.
Ketika perselisihan terjadi antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan, ia tidak berpihak kepada salah satu diantara mereka.

Periwayat hadits

Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Muhammad, yaitu sebanyak 5.374 hadits. Diantara yang meriwayatkan hadist darinya adalah Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, dan lain-lain. Imam Bukhari pernah berkata: "Tercatat lebih dari 800 orang perawi hadits dari kalangan sahabat dan tabi'in yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah".
Marwan bin Hakam pernah menguji tingkat hafalan Abu Hurairah terhadap hadits Nabi. Marwan memintanya untuk menyebutkan beberapa hadits, dan sekretaris Marwan mencatatnya. Setahun kemudian, Marwan memanggilnya lagi dan Abu Hurairah pun menyebutkan semua hadits yang pernah ia sampaikan tahun sebelumnya, tanpa tertinggal satu huruf.
Salah satu kumpulan fatwa-fatwa Abu Hurairah pernah dihimpun oleh Syaikh As-Subki dengan judul Fatawa' Abi Hurairah.

 Keturunan

Abu Hurairah termasuk salah satu di antara kaum fakir muhajirin yang tidak memiliki keluarga dan harta kekayaan, yang disebut Ahlush Shuffah, yaitu tempat tinggal mereka di depan Masjid Nabawi. Abu Hurairah mempunyai seorang anak perempuan yang menikah dengan Said bin Musayyib, yaitu salah seorang tokoh tabi'in terkemuka.

Wafat

Pada tahun 678 atau tahun 59 H, Abu Hurairah jatuh sakit, meninggal di Madinah, dan dimakamkan di Baqi'.

Kamis, November 19, 2009

Imam MAHDI


Dalam menanggapi berita-berita tentang munculnya Imam Mahdi, manusia terpecah menjadi tiga golongan. Pertama, golongan tafrith (pengingkar) seperti mu'tazilah dan para rasionalis. Kedua, golongan ifrath (berlebihan) yang muta'ashib dan mengaku-aku bahwa Imam Mahdi dari golongan mereka seperti Syi'ah dan sejenisnya. Sedangkan ketiga adalah yang tengah-tengah antara keduanya yaitu ahlus sunnah yang menyatakan sesuai dengan riwayat-riwayat yang shahih tentangnya.

Golongan Tafrith
Golongan yang mengingkari akan munculnya Imam Mahdi sebagian besar mereka karena terpengaruh ucapan Ibnu Khaldun yang mendlaifkan hadits tentangnya. Padahal dia sama sekali bukanlah pakar ilmu hadits. Ia berkata: "Hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para imam tentang Imam Mahdi akan keluar pada akhir zaman tidak lepas dari kritikan-kritikan, kecuali sedikit atau lebih sedikit lagi." (Muqaddimah Tarikh, Ibnu Khaldun, jilid I, hal. 574)
Ucapan Ibnu Khaldun ini menunjukkan bahwa dia mengakui bahwa di antara hadits tersebut ada yang selamat dari kritikan, namun sedikit sekali. Kita katakan meskipun hanya ada satu hadits yang selamat dari kritikan tersebut, maka cukup itu sebagai dalil tentang akan muncul Imam mahdi di akhir zaman.
Termasuk pengingkar adanya berita ini adalah Muhammad Rasyid Ridla dan yang sejenisnya. Ia berkata: "Adapun pertentangan antara hadits-hadits tentang Imam Mahdi sangat jelas dan kuat. Dan untuk menjamakkannya sangat sulit, sementara pengingkarnya sangat banyak dan kerancuannya sangat tampak. Oleh karena itu dua Syaikh (Bukhari dan Muslim) tidak memasukkannya dalam kitab-kitab mereka." (Tafsir al-Manaar, juz 9, hal. 499).
Kemudian Rasyid Ridla mencontohkan pertentangan tentang Imam Mahdi antara sunni, Syi'ah dan kelompok-kelompok lainnya, seraya berkata: "Sesungguhnya ta'ashub golongan yang terjadi pada Alawiyah, Abasiyah dan Farisiyah memiliki peranan yang besar dalam pemalsuan hadits-hadits tentang Imam Mahdi. Masing-masing kelompok mengaku kalau Imam Mahdi dari kelompoknya ... dan seterusnya." (Tafsir al-Manaar, juz 9, hal. 499).

Bantahan terhadap Golongan Tafrith
Ucapan-ucapan di atas telah dibantah oleh para ulama ahlus sunnah dari beberapa sisi:
1. Adapun ucapan Rasyid Ridla tentang pertentangan antara hadits-hadits, maka itu terjadi pada hadits-hadits yang dlaif dan palsu. Adapun pada hadits yang shahih tidak ada pertentangannya. Alhamdulillah.
2. Perselisihan sunni dengan syi'ah tidak dapat dianggap sebagai ikhtilaf dan pertentangan, karena kesesatan Syi'ah telah nyata hingga oleh para ulama tidak diperhitungkan lagi.
3. Sedangkan pemalsuan hadits dan ta'ashubnya beberapa golongan, telah diketahui dan dipisahkan oleh pakar-pakar ahlu hadits.
4. Lagi pula apakah dengan adanya hadits-hadits dlaif dan palsu tentang Imam Mahdi ini, membuat kita harus meninggalkan hadits-hadits yang shahih?
5. Pakar-pakar ahlu hadits telah menyatakan bahwa hadits-hadits ini shahih bahkan mutawatir.
6. Adapun jika Bukhari dan Muslim tidak memasukkan dalam Shahih-nya, bukan berarti haditsnya dlaif. Karena Imam Bukhari sendiri telah menshahihkan beberapa hadits di luar kitab Shahih-nya.
Berkata Ibnu Katsir: "Sesungguhnya Bukhari dan Muslim tidak memasukkan seluruh hadits-hadits shahih dalam kitabnya. Bahkan beliau berdua telah menshahihkan hadits-hadits yang bukan di dalam kitab Shahih-nya sebagaimana dinukil oleh Tirmidzi dan lainnya bahwa Bukhari telah menshahihkan hadits-hadits di luar kitabnya, seperti dalam Sunan dan lainnya. (al-Ba'itsul Hatsis, hal. 25) (Diringkas dari Asyrathu as-Sa'ah, hal. 269-270)

Golongan Ifrath
Sebaliknya kaum Syi'ah mengaku-aku Imam Mahdi yang akan muncul pada akhir zaman adalah dari golongannya. Mereka mengatakan bahwa ia sudah lahir, namanya Muhammad bin al-Hasan al-Askari al-Muntadhar dari turunan Al Husain dan masuk ke gua Saamirra ketika berumur lima tahun. Kemudian mereka menunggunya setiap saat dengan memanggil-manggil namanya di depan gua tersebut.

Ucapan para ulama tentang pendapat Syi'ah
Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya al-Manarul Munif ketika berbicara tentang Imam Mahdi, berkata: "Beliau adalah seorang dari kalangan ahlul bait Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dari turunan Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhu, akan keluar di akhir zaman ketika dunia telah dipenuhi oleh kejahatan dan kedhaliman, kemudian ia memenuhinya dengan kebaikan dan keadilan. Mayoritas hadits-hadits menunjukkan yang demikian..." Kemudian beliau berkata: "Adapun Rafidhah Imamiyyah memiliki ucapan lain, yaitu: Al Mahdi adalah Muhammad bin Al Hasan Al-Askari Al Muntadhar dari turunan Husain bin Ali radhiyallahu 'anhu dan turunan Al Hasan. Yang hadir di semua negeri tetapi ghaib dari pandangan mata, masuk ke gua Saamirra ketika masih kecil, lima ratus tahun yang lalu lebih. Setelah itu tidak pernah terlihat lagi oleh mata dan tidak pernah bisa diraba berita atau jejaknya. Setiap hari mereka menunggunya, mereka berdiri dengan membawa kuda tunggangan di pintu gua dan menjerit-jerit memanggil Imam Mahdi keluar menemui mereka: "Keluarlah wahai maulana! Keluarlah wahai maulana! Kemudian mereka pulang dengan kegagalan. Demikianlah tingkah mereka setiap hari."
Setelah itu Ibnul Qayyim berkata: "Sungguh mereka telah menjadikan diri mereka bahan tertawaan manusia, dan menjadi cemoohan orang yang berakal." (al-Manarul Munif, Ibnul Qayyim, hal. 151-152)
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Kitabul Fitan Wal Malahim berkata: "Pasal, tentang Al-Mahdi yang akan muncul di akhir zaman, yang merupakan salah seorang dari khalifah-khalifah yang lurus dan imam-imam yang mendapatkan petunjuk. Dia bukanlah Al-Muntadhar yang diyakini kaum Syi'ah dan diharapkan -oleh mereka- munculnya dari gua Saamirra. Karena semua itu kenyataannya tidak ada, tidak terlihat wujudnya tidak ada pula tanda-tandanya. Mereka menganggap imam Mahdi itu adalah Muhammad bin al-Hasan al-Askari yang masuk ke gua."
Kemudian beliau berkata juga: "Al-Mahdi akan keluar dari arah Masyriq, bukan dari gua Samirra seperti anggapan orang-orang bodoh dari kalangan Rafidhah, yang menganggapnya sudah ada sekarang dan mereka terus menunggu keluarnya di akhir zaman. Sungguh ini adalah sebuah igauan dan kerendahan yang dilemparkan oleh setan. Karena tidak ada dalil, tidak ada bukti, tidak dari kitab Al-Qur'an, tidak dari As-Sunnah, tidak dari akal yang sehat dan tidak pula dari Istihsan." (Al-Fitan Wal Malahim, 1/29).
Al-Imam As-Safarini berkata dalam kitabnya Lawami'ul Anwar setelah menerangkan aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah tentang Imam Mahdi sebagai berikut: "Adapun anggapan syi'ah yang mengatakan bahwa namanya Muhammad bin Al-Hasan, yakni Muhammad bin Al-Hasan Al-Askari maka itu hanyalah igauan karena Muhammad bin Al-Hasan telah mati dan warisan bapaknya telah diambil oleh pamannya Ja'far." (Lawami'ul Anwar, juz II hal. 84)

Pendapat Ahlus Sunnah tentang Imam Mahdi
Ahlus Sunnah meyakini akan datangnya Imam al-Mahdi di akhir zaman, namun bukan seperti Al-Mahdi yang digambarkan oleh syi'ah. Ahlus sunnah meyakini apa yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى تَمْلِكَ الْعَرَبُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي، يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي، وَاسْمُ أَبِيْهِ اسْم أَبِي، يَمَْلأُ اْلأَرْضُ عَدْلاً وَقَسْطً كَمَا مَلَئَتْ جِوَارًا وَظُلْمًا. (رواه أبو داود والترمذي، وحسنه الألالباني في مشكاة المصابيح)
"Tidak akan hilang dunia hingga arab dikuasai oleh seorang dari Ahli Baitku, namanya mencocoki namaku dan nama bapaknya mencocoki nama bapakku. Dia akan memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kedzaliman dan kejahatan." (HR. Abu Dawud dalam Kitabul Mahdi 4/473, Tirmidzi dalam Kitabul Fitan bab Maa Jaa`a fil Mahdi 4505 dan beliau berkata hadits ini hasan shahih. Berkata Syaikh al-Albani: sanadnya hasan. Lihat Misykatul Mashabih 3/1501 hadits 5425).
Dalam hadits ini sangat jelas disebutkan bahwa Imam Mahdi akan muncul di akhir zaman dan namanya mencocoki nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan nama bapaknya. Berarti Imam Mahdi adalah seorang yang dilahirkan seperti manusia pada umumnya yaitu dari seorang bapak yang bernama Abdullah, sehingga beliau dipanggil dengan nama Muhammad bin Abdillah, bukan Muhammad bin al-Hasan al-Asykari.
Nasehat untuk seluruh kaum muslimin Kita kaum muslimin semestinya berjalan di atas jalan tengah, tidak berlebihan dan tidak pula berkurang-kurangan. Tidak ekstrim, melampaui batas yang telah digariskan dan tidak pula ta'ashub mengikuti hawa nafsu hingga menolak hadits-hadits yang shahih. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya." (al-Hasyr: 7)
Maka jika apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kita berupa perintah, terimalah sebagai perintah yang harus kita amalkan.
Apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam bentuk larangan, maka terimalah sebagai larangan yang harus kita taati dengan meninggalkan apa yang dilarangnya. Demikian pula apa yang dibawanya dari berita-berita, maka harus kita terima sebagai berita yang jujur terpercaya dan harus kita imani. Seperti berita-berita dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang Imam Mahdi, Turunnya Isa 'alaihis salam, Dajjal dan lain-lainnya.
Allah mengancam orang-orang yang menyelisihi sunnah Rasul-Nya dengan ancaman-ancaman yang berat, seperti dalam firman-Nya:
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (an-Nisaa`: 115)
Maka orang-orang yang diancam dalam ayat ini adalah orang yang menolak dan menentang ucapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam setelah jelas baginya keshahihan hadits tersebut.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
"... maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih." (an-Nuur: 63)
Bahkan Allah menafikan keimanan dari mereka yang tidak mau tunduk kepada ucapan-ucapan dan keputusan-keputusan Rasulullah.
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
"Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (an-Nisaa`: 65)
Maka yang terancam dengan ayat-ayat di atas adalah orang-orang yang tidak mau tunduk dengan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, apakah dengan menolaknya atau dengan menambahinya.
Wallahu a'lam.

(Dikutip dari risalah dakwah Manhaj Salaf, Edisi: 67/Th. II, tanggal 17 Jumadi Awwal 1426 H/24 Juni 2005 M, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed)

Shirotol Mustaqim

Al-Sirath/Al-Sirath al-Mustaqim (Arab: الصراط) adalah jambatan/titian yang terbentang di atas permukaan neraka jahannam yang sangat licin, memiliki kait, cakar dan duri. Setelah melepasi masa di Padang Mahsyar, kaum Muslim akan dibentangkan sirath bagi mereka di atas neraka jahannam sehingga mereka melintasi di atasnya dengan kecepatan sesuai berdasarkan kadar keimanan mereka. Orang yang pertama kali melintasi titian Sirath itu adalah Nabi Muhammad, kemudian Nabi Muhammad SAW berdiri di tepi sirath seraya berdoa, “Rabbi, selamatkan, selamatkan!”  Jika ada umat-Nya yang pernah menyekutukan Allah dengan kesyirikan besar dan belum bertaubat sebelum kematiannya, akan mengakibatkan kekekalan di dalam neraka.
Adapun orang-orang kafir dengan berbagai jenisnya, musyrikin, penyembah berhala, atheis dan yang lainnya, mereka itu akan dimasukkan ke dalam neraka dan akan dibukakan ketujuh pintu neraka jahannam bagi mereka. Sesuai dengan Surah Az-Zumar: 71,
“ Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahanam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya.(Templat:Quran-s) ”
dan Surah Templat:Quran-s,
“ Jahanam itu mempunyai tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.(Templat:Quran-s) ”

 Etimologi

Kata sirath secara akar bahasa memiliki erti 'tertelan'. Penamaan jambatan ini disebut sebagai jambatan Sirath adalah berdasarkan kedua hadis sahih berikut iaitu, "Maka dibuatlah As-Sirath di atas jahannam .... "Dan diutus amanah dan kekerabatan, maka keduanya berdiri di kedua tepi As-Sirath ...."

Wujud Shirath

Jambatan yang menghubungkan Padang Mahsyar dengan Syurga, menurut keterangan sahabat Abu Said, "Jambatan ini lebih kecil dari rambut dan lebih tajam dari pedang."
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menciptakan Sirath yang berada diatas neraka, iaitu jambatan yang terletak ditengah-tengah neraka jahannam yang sangat licin dan dapat menggelincirkan. Jembatan ini mempunyai 7 gardu (pos), yang setiap gardu jaraknya sama dengan perjalanan 3000 tahun, seribu tahun berupa tanjakan yang tinggi, seribu tahun berupa dataran, dan seribu tahun berupa lereng yang curam. Ia lebih kecil dan lembut dari pada rambut, lebih tajam dari pada pedang, dan lebih gelap dibandingkan malam yang pekat. Setiap gardu mempunyai 7 cabang, setiap cabang bentuknya bagai panah yang ujungnya tajam. Duduklah setiap hamba diatas setiap gardu tersebut dan ditanyakan kepadanya tentang perintah-perintah Allah.

Pertanyaan di setiap pos

Selama perjalanan di shirath, setiap seorang hamba akan ditanyakan tentang apa saja yang telah ia kerjakan selama hidupnya. Pertanyaan disetiap pos adalah sebagai berikut:
Jika seorang hamba meloloskan dari semua pertanyaan-pertanyaan ini, maka tetaplah ia pada pos dan jika tidak, maka ia akan dilemparkan ke dalam neraka.
Dalam suatu riwayat diceritakan: Sesungguhnya ketika manusia melewati jambatan, maka api neraka berada di bawah telapak kaki mereka, ada yang berada diatas kepala mereka, ada yang berada di sebelah kanan dan kiri mereka, serta ada yang berada di belakang dan di depan mereka. Allah berfirman dalam Surah Maryam:
“ Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu, hal itu bagi Tuhanmu adalah kepastian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertaqwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim didalam neraka dalam keadaan berlutut." (Templat:Quran-s). ”
Sedangkan api neraka itu selalu memakan tubuhnya, mulai dari kulit sampai dagingnya, sehingga orang yang lewat diatas jambatan itu bagaikan arang yang hitam, kecuali orang-orang yang selamat dari api neraka. Sebagian mereka ada yang melewati neraka tanpa disertai rasa takut terhadap apapun dari kesulitan dan tidak pula merasakan panasnya, hingga ia berkata pada akhir perjalanannya: "Dimanakah jembatan itu ?" Lalu dikatakan kepadanya: "Telah engkau lalui jembatan itu tanpa kesusasahan berkat rahmat Allah."

Sepuluh kumpulan manusia di Sirath

Manusia yang pertama kali menginjakkan kakinya di Sirath adalah Muhammad, dia akan memimpin kumpulan-kumpulan umatnya. Kumpulannya terbagi menjadi 10 bagian, yaitu:
  • Kumpulan pertama berjaya melintasi seperti kilat yang memancar.
  • Kumpulan kedua melintasi seperti angin yang kencang.
  • Kumpulan ketiga melintasi seperti kuda yang baik.
  • Kumpulan yang keempat seperti burung yang pantas.
  • Kumpulan yang kelima berlari.
  • Kumpulan keenam berjalan.
  • Kumpulan ketujuh berdiri dan duduk karena mereka dahaga dan penat. Dosa-dosa terpikul di atas belakang mereka. Muhammad berhenti di atas Shirath. Setiap kali, Muhammad melihat seorang dari umatnya bergelayut di atas Shirath, kemudian ia akan menarik tangannya dan membangunkan dia kembali.
  • Kumpulan kedelapan menarik muka-muka mereka dengan rantai kerana terlalu banyak kesalahan dan dosa mereka. Bagi yang buruk, mereka akan menyeru: "Wahai Muhammad!" Muhammad kemudian berkata: "Tuhan! Selamatkan mereka! Tuhan! Selamatkan mereka"!
  • Kumpulan kesembilan dan kesepuluh tertinggal di atas Shirath, mereka tidak diizinkan untuk menyeberang.
Dikatakan bahwa, di pintu syurga, ada pokok yang mempunyai banyak dahan. Bilangan dahannya tidak terkira hanya Allah saja yang mengetahui. Di atasnya ada anak-anak yang telah mati semasa di dunia ketika umur mereka belum baligh (dewasa). Apabila mereka melihat orang tua mereka, mereka menyambutnya dan mengiringi mereka memasuki surga. Mereka memberikan gelas-gelas dan cerek serta tuala dari sutera.
Hari Kiamat merupakan hari yang digambarkan sebagai musnahnya seluruh alam dan bumi dan kebangkitan semula. Kiamat berasal dari perkataan bahasa Arab iaitu قيام yang bermaksud bangkit atau bangun. Ia merupakan satu kepercayaan dalam agama Ibrahim, termasuk Yahudi, Kristian dan Islam.Tanda-tanda Kiamat menurut agama Islam merupakan suatu petunjuk atau isyarat yang sudah hampirnya Hari Kiamat. Bermula dengan tanda-tanda kecil dan kemudian disusuli dengan tanda-tanda besar.

Tanda-tanda besar

  • Keluar sejenis binatang dari perut bumi yang digelar Dabbatul Ardhi.
  • Lahirnya Dajjal.
  • Keluar asap tebal.
  • Turunnya Nabi Isa a.s.
  • Kemunculan Imam Mahdi.
  • Matahari terbit dari ufuk barat.
  • Keluarnya suku Yakjuj dan Makjuj.
  • Diangkat al-Quran dan perkara-perkara yang baik
  • Runtuhnya Ka'abah
  • Terdengar tiupan sangkakala pertama.
  • Ada azan tak di jawab
  • 3 kali gempa bumi, sekali di timur, sekali di barat, dan yang ketiga di Semenanjung Arab.

 Tanda-tanda kecil

Didapati kini bahawa seluruh tanda-tanda kecil telah muncul dan terbukti seperti yang dinyatakan dalam hadis. Kebanyakan hadis-hadis ini dapat ditemukan di dalam Sahih Muslim, Sahih Bukhari dan Riwayat Tarmizi.
  • Penaklukan Baitulmuqaddis
“ Dari Auf b. Malik r.a., katanya, "Rasulullah s. a. w. telah bersabda:"Aku menghitung enam perkara menjelang hari kiamat." Baginda menyebutkan salah satu di antaranya, iaitu penaklukan Baitulmuqaddis." - Sahih Bukhari ”
  • Zina bermaharajalela
“ "Dan tinggallah manusia-manusia yang buruk, yang seenaknya melakukan persetubuhan seperti himar (keldai). Maka pada zaman mereka inilah kiamat akan datang." - Sahih Muslim ”
  • Pemimpin yang terdiri dari orang yang jahil dan fasik
  • Bermaharajalela alat muzik
“ Pada akhir zaman akan terjadi tanah runtuh, rusuhan dan perubahan muka."Ada yang bertanya kepada Rasulullah; "Wahai Rasulullah bila hal ini terjadi?" Baginda menjawab; "Apabila telah bermaharajalela bunyi-bunyian (muzik) dan penyanyi-penyanyi wanita" - Ibnu Majah ”
  • Menghias masjid dan membanggakannya
“ Di antara tanda-tanda telah dekatnya kiamat ialah manusia bermegah-megahan dalam mendirikan masjid" - Riwayat Nasai. ”
  • Munculnya kekejian, memutuskan kerabat dan hubungan dengan tetangga tidak baik
“ Tidak akan datang kiamat sehingga banyak perbuatan dan perkataan keji, memutuskan hubungan silaturahim dan sikap yang buruk dalam tetangga." - Riwayat Ahmad dan Hakim ”
  • Ramai orang menuntut ilmu kerana pangkat dan kedudukan
  • Ramai orang soleh meninggal dunia
“ Tidak akan datang hari kiamat sehingga Allah mengambil orang-orang yang baik dan ahli agama dimuka bumi, maka tiada yang tinggal padanya kecuali orang-orang yang hina dan buruk yang tidak mengetahui yang makruf dan tidak mengingkari kemungkaran - Riwayat Ahmad ”
  • Orang hina mendapat kedudukan terhormat
“ Di antara tanda-tanda semakin dekatnya kiamat ialah dunia akan dikuasai oleh Luka' bin Luka'(orang yang bodoh dan hina). Maka orang yang paling baik ketika itu ialah orang yang beriman yang diapit oleh dua orang mulia" - Riwayat Thabrani ”
  • Mengucapkan salam kepada orang yang dikenalnya sahaja
“ "Sesungguhnya di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah manusia tidak mahu mengucapkan salam kepada orang lain kecuali yang dikenalnya saja." - Riwayat Ahmad ”
  • Banyak wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang 
“ Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.
"Di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah akan muncul pakaian-pakaian wanita dan apabila mereka memakainya keadaannya seperti telanjang."
”
  • Bulan sabit kelihatan besar
“ Di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah menggelembung (membesarnya) bulan sabit." - Riwayat Thabrani ”
  • Banyak dusta dan tidak tepat dalam menyampaikan berita
“ Pada akhir zaman akan muncul pembohong-pembohong besar yang datang kepadamu dengan membawa berita-berita yang belum pernah kamu dengar dan belum pernah didengar oleh bapa-bapa kamu sebelumnya, kerana itu jauhkanlah dirimu dari mereka agar mereka tidak menyesatkanmu dan memfitnahmu" - Sahih Muslim ”
  • Banyak saksi palsu dan menyimpan kesaksian yang benar
“ Sesungguhnya sebelum datangnya hari kiamat akan banyak kesaksian palsu dan disembunyikan kesaksian yang benar" - Riwayat Ahmad ”
  • Negara Arab menjadi padang rumput dan sungai
“ Tidak akan datang hari kiamat sehingga negeri Arab kembali menjadi padang rumput dan sungai-sungai." - Sahih Muslim ”
  • Banyaknya sifat bohong dan ia menjadi perkata biasa[perlu rujukan]
  • Jarak-jarak antara pasar menjadi dekat (menunjukkan banyaknya kegiatan perdagangan)[perlu rujukan]
“ Banyaknya sifat bohong, pendeknya waktu, dekatnya jarak-jarak antara pasar-pasar." - Riwayat Bukhari ”
  • Manusia mewarnai rambut di kepalanya dengan warna hitam supaya kelihatan muda[perlu rujukan]
“ Pada akhir zaman akan muncul suatu kaum yang mencelupi rambut mereka dengan warna hitam seperti 'bulu merpati' yang mereka itu tidak akan mencium bau syurga." - Sahih Abu Daud & Nasai ”
  • Kekayaan umum dikuasai segelintir orang tanpa kebenaran dan tanpa rasa takut, termasuk rasuah dan mengambil harta secara tersembunyi.

  • Akan terdapat banya pengkritik, pembawa-cerita, penikam-belakang dan pengejek dalam masyarakat.
  • Orang akan mendirikan hubungan dengan orang tak dikenali dan memutuskan hubungan dengan yang rapat dan disayangi.
  • Orang akan melakukan homoseksual.
  • Akan terdapat ramai anak luar nikah.
- Abdullah Ibn Mas'ood (R.A.)
  • Berkurangnya sifat amanah
  • Terasa berat untuk menjalankan syariah (zakat dijadikan hutang)
  • Lelaki mentaati isterinya tetapi menderhakai ibunya

  • Lelaki berkasar dengan bapanya tetapi beramah dengan rakannya
  • Suara manusia meninggi (menjerit dan berteriak) di masjid-masjid

  • Pemimpin suatu kaum adalah keji dan pemimpin suatu suku adalah fasik

  • Lelaki dihormati bukan kerana budi dan kebaikan tetapi kerana takut akan kejahatannya
“ Dari Ali dan Abu Hurairah r.a.: "Apabila harta rampasan perang (milik umum) dikuasai segelintir orang sahaja, barang amanah menjadi rampasan, harta zakat menjadi hutang, seorang lelaki mentaati isterinya dan menderhakai ibunya, berbuat baik kepada temannya dan berbuat kasar kepada bapanya, suara-suara tinggi di masjid-masjid, yang menjadi pemimpin suatu kaum (bangsa) adalah orang yang hina (berkelakuan/bersifat keji) di antara mereka dan orang yang menjadi ketua suatu suku (kabilah) adalah orang fasik di antara mereka, seorang lelaki dihormati kerana takut jahatnya, arak biasa diminum, sutera biasa dipakai (oleh lelaki), munculnya penyanyi perempuan dan alat-alat muzik, orang yang di kalangan umat terkemudian akan melaknat (mengutuk) umat terdahulu, maka ketika itu hendaklah mereka menunggu kedatangan angin merah atau pembalikan bumi atau keburukan bentuk-bentuk atau tanda-tanda yang beriringan seperti tali yang putus maka jatuhlah biji secara berterusan". - Riwayat Tarmizi ”


  • Anggota polis semakin ramai yang menunjukkan semakin banyak kerosakan
-hadis bawah-
  • Mendahulukan lelaki menjadi imam bukan kerana ilmu tetapi kerana suara...
-hadis bawah-
  • Penjualan jawatan atau kepemimpinan (politik wang)
-hadis bawah-
  • Memandang rendah kepada darah
“ Rasulullah bersabda: "Bersegeralah untuk melakukan amal soleh apabila telah muncul enam perkara: perlantikan pemimpin yang boodoh, ramainya bilangan anggota polis, penjualan kepemimpinan, tiada penghargaan terhadap darah, pemutusan silaturrahim, orang mabuk menjadikan al-Quran sebagai alat nyanyi yang mereka mendahulukan seseorang antara mereka menjadi imam agar dapat menyanyikannya walaupun orang tersebut paling sedikit ilmunya." - Sahih Riwayat Tabrani & Ahmad ”


  • Seorang isteri bekerja dalam satu syarikat dengan suaminya. (Malah isteri berpangkat lebih besar)
“ Dari riwayat Ibnu Masud: "Di pintu gerbang (dekatnya) hari kiamat: Salam hanya kepada orang yang khusus (sudah dikenalinya), tersebar dan berkembangnya perdagangan sehingga seorang isteri membantu suaminya berdagang" - Sahih Lighairihi Riwayat Ahmad ”


  • Munculnya gaya hidup mewah dan manja di kalangan umat Islam
“ Apabila umatku berjalan dengan sombong dan yang melayan mereka adalah putera-puteri raja, putera-puteri Parsi dan Rom, maka orang yang paling buruk akan berkuasa terhadap orang yang paling baik (pilihannya)." - Riwayat Tarmizi, Sahih Abdullah ibnu Umar r.a. ”


  • Orang fasik dimuliakan sedangkan orang mulia dan terhormat direndahkan
“ Sungguh hebat dia, sunggu jarang orang seperti dia dan sungguh pintar dia sedangkan di dalamnya tidak ada iman sedikitpun" - Riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad, Tarmizi, Ibnu Majah ”


  • Banyak orang berharap untuk mati kerana banyaknya kekacauan ataupun kesengsaraan
“ "Tidak akan berlaku kiamat sehingga apabila seorang lelaki melalui sebuah kubur maka ia akan berkata: 'Aduhai seandainya aku juga berada ditempatnya.'" - Riwayat Bukhari[2] dan Muslim ”
  • Banyaknya berlaku huru-hara yang menyebarkan kejahatan
  • Banyaknya berlaku pergaduhan dan pembunuhan
“ "Kiamat tidak akan berlaku kecuali apabila ilmu telah diangkat, banyaknya berlaku gempa bumi, timbulnya huru-hara dan banyak pergaduhan iaitu pembunuhan - Sahih Bukhari ”
  • Munculnya mati mendadak atau mati secara tiba-tiba
-hadis bawah-
  • Masjid dijadikan jalan iaitu seseorang muslim melalui masjid tanpa melakukan solat
“ Masjid dijadikan sebagai jalan-jalan dan timbulnya mati mendadak" - Hasan At-Tayalisy. ”